Menuju Gagasan Ilmu Informasi sebagai Antar-Ilmu

Oleh Yasintus Runesi

Pengantar

Banyak penulis telah menulis tentang ilmu informasi sebagai ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa perkembangan dalam ilmu informasi sendiri masih akan terus bergerak maju. Namun, pada sisi lain, perkembangan itu terancam oleh stagnasi (keadaan berhenti), kemiskinan intelektual, bahkan pada tingkatan tertentu, ilmuwan dari ilmu bersangkutan mengalami kebosanan (dalam Teori Sistem, keadaan ini disebut sebagai patologi). Menghindari situasi semacam ini ditandaskan pentingnya perdebatan dalam lingkup ilmu pengetahuan. Debat di dalam ilmu pengetahuan penting dan selalu menempati tempat penting, sebab sebuah perdebatan bisa memunculkan perspektif baru dan berbeda. Memang harus disadari pula bahwa seringkali kebaruan itu sendiri tak langsung terterima, maka penting diingat bahwa suatu pandangan mesti selalu dipertimbangkan dan dipertimbangkan ulang.

Salah satu aspek yang sering terlupa adalah aspek refleksi. Tepatnya, refleksi adalah aktivitas intelektual dalam ilmu pengetahuan dan bersifat fundamental dalam ilmu pengetahuan. Misalnya, metode apa yang dipilih, bagaimana metode tersebut dioperasionalkan, dan kesimpulan apa yang bisa diberikan dari suatu penemuan, semuanya adalah tindakan reflektif. Refleksi merupakan aktivitas yang sering tidak disadari terutama bila manusia ditempatkan sebagai tool-making animal dalam konteks ilmu-ilmu teknis (istilah Habermas), karena perhatian yang total pada peningkatan kapasitas fungsional akal budi. Antar-ilmu dari De Beer ini mencakup tiga bidang penting. Kita akan lihat bersama dalam bagian berikutnya.

Perubahan Lanskap

Ada dua perubahan yang dialami orang-orang semasa ini, termasuk juga para ilmuwan. Pertama, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICTs). Floridi bahkan bilang itu revolusi keempat, karena sebelumnya hanya ICT-related. Tetapi, sekarang sudah menjadi ICT-dependent. Yang kedua, dalam ilmu pengetahuan, terutama pada level ontologi, ini adalah sesuatu yang diinisiasi oleh pemikiran Deleuze dan Guattari tentang rhizome.

Pada yang pertama, globalisasi sebagai sistem dan mentalitas tidak dapat diingkari. Seluruh perkembangan terkini dalam bidang pengetahuan distrukturkan atau dikonstitusi oleh ketiga hal ini: humaniora, ilmu pengetahuan, dan media massa. Ketiganya sering saling mengabaikan, bahkan saling mencaci. Namun, sebenarnya, ketiganya diikat oleh satu hal penting, yakni informasi. Informasi menduduki tempat sentral. Bisa disebut, bahwa seluruh realitas berada dalam apa yang disebut sebagai ‘informatisasi’: semua hal menjadi informasi. Harus ditambahkan bahwa ini tidak berarti bahwa kita jatuh dalam kondisi deterministik total. Mengapa? Atas pertanyaan tersebut, sayangnya De Beer tidak beri jawaban.

Yang kedua, bermula dari pergeseran ontologi pada ilmu-ilmu humaniora yang diinisiasi oleh Deleuze dan Guattari: ontologi rhizome. Suatu ilmu tidak lagi berdiri sendiri, melainkan harus menjadi multidispliner (konsentris) dan atau trans/interdisipliner (dialektis). Yang satu membantu kita menyadari warna-warni suatu persoalan, yang lainnya membantu kita menakar bobot persoalan. Pengetahuan menjadi suatu bidang berjaringan (Latour, Serres). Pengetahuan itu bidang yang dinamis, fleksibel, hidup, membebaskan, dan punya kapabalitas untuk membuka dan menemukan jalan, perspektif, dan masa depan baru. Di sini, informasi dipahami dalam istilah ‘kultur informasionalisme’. Dalam kultur ini, ‘informasi adalah pengetahuan dalam tindakan’. Pengetahuan dapat ditransformasi ke dalam sesuatu yang bisa dikerjakan dan diaplikasikan, yakni informasi.

Dalam konteks ini, melalui apa yang disebut sebagai ‘ekologi kognitif’, Levy secara tandas menyatakan bahwa batas antar-ilmu dilampaui dan pelampauan itu sendiri membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Ada dua prinsip yang lahir dari situasi ini. Prinsip pertama adalah prinsip percabangan (the principle of branched multiplicity). Prinsip ini menyatakan bahwa intelektual teknologi musti menghadapi dan menganalisa dirinya sendiri sebagai suatu kejamakan, dengan keterbukaan yang tak terbatas.

Yang kedua adalah prinsip interpretasi. Prinsip ini menyatakan bahwa makna suatu perkembangan teknis tidak pernah terberi di dalam konsepsinya, tidak juga pada suatu moment partikular dari keberadaannya, tetapi hal tersebut terkait dengan masalah kontradiksi dan interpretasi sementara dari aktor-aktor sosial. Dengan kata lain, makna tidak ditetapkan sejak awal, tetapi hanya hadir dalam suatu proses yang berlangsung, dan terus berubah.

Memikirkan Ulang Pikiran Manusia

Di sini pikiran dan gagasan dilihat dalam hubungan dengan nilai kegunaan ketimbang akal budi dan kebenaran. Sudah ditegaskan dalam diskusi dalam bagian pengantar yang lalu, De Beer menyebutnya sebagai pikiran noologis: bahwa manusia mampu melampaui bentuk pikiran rasional dan rasionalistik untuk sampai pada praksis. Bisa melampaui pikiran sebagai pikiran dan menuju pikiran sebagai sesuatu yang konkret. Dalam hal ini, pikiran seseorang tidak lagi sebatas soliter dan berdiri sendiri. Menurut Levy, seseorang yang berpikir, selalu berpikir dalam ‘a mega-cosmopolitical network “in” them’. Kalau dalam istilah tradisionalnya, kita perlu sejenak mengabaikan pemikiran sebagai suatu vita contemplativa dan bergerak menuju vita activa, dari yang kontemplatif ke praksis.

Pendekatan baru

Model pendekatan dalam ilmu informasi bersifat relasional ketimbang substansial, dan karena itu, keanekaragaman tidak dapat direduksi pada satu hal. Gaston Bachelard menyebutnya sebagai ‘patahan epistemologis’. Model pendekatan ini keluar dari model tradisional yang membedakan antara pikiran dari objeknya, dan prioritas objek dibanding pikiran. Dalam praksis ilmu pengetahuan kontemporer, diterima perbedaan-perbedaan aksiomatik, juga mengakui kejamakan hipotesis-hipotesis dasar yang tak bisa direduksi pada satu hipotesis tunggal. Dengan kata lain, pemikiran bergerak dari pendasaran pada prinsip identitas menuju non-identitas.

Serres misalnya menekankan hubungan antara ilmu pengetahuan, kemanusiaan (humaniora) dan filsafat. Ketiganya bisa saling memerkaya, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru: inventing new worlds, new meanings, and new futures. Secara sosial, interaksi antar-ilmu memampukan subjek berlangkah melampaui batas-batas ‘dunia-kehidupan’-nya. Bagi De Beer, ini membuka kemungkinan baru bagi ilmu informasi dan kerja informasi. Dari diskusi di atas, kelihatan bahwa suatu spirit keilmuan yang baru mencakup dan disokong oleh pilihan di antara dua pendekatan: deterministik vs. indeterministik, stagnan vs. kreatif, atau royal vs. nomad.

Pada konteks ini, Deleuze dan Guattari membedakan dua model pendekatan: royal science (ilmu-ilmu positif) dan nomad science (ilmu-ilmu interpretatif). Yang terakhir ini mengajukan masalah yang solusinya dihubungkan dengan seluruh rangkaian kolektif, praktik-praktik non-ilmiah, namun solusi-solusi ini bergantung, sebaliknya, pada ilmu-ilmu royal dan yang caranya mentransformasi masalah dengan mengenalkan masalah-masalah tersebut ke dalam aparatus-aparatus teorematis dan proses kerjanya.

Tantangan-tantangan Ilmu Informasi

Pendekatan baru di atas secara langsung menghadirkan tantangan bagi ilmu informasi. Dengan kata lain, mau seperti sekarang, bertahan dengan cara yang lama atau menjawab tantangan dan menemukan cara baru? Bagi De Beer, bila ilmuwan informasi ingin menyumbang sesuatu yang memadai bagi ilmunya dan kalau ingin terlibat dalam proyek ‘menyiapkan masa depan’, maka tantangan ini mesti dijawab dengan melihat kembali tempat, fokus, peran dan tanggung jawab ilmu informasi.

Menurut De Beer, setiap tantangan bisa dijawab dalam dua langkah konkret. Pertama, memikirkan ulang ilmu informasi dalam garis yang sejajar dengan ilmu-ilmu lain (jawaban cukup lengkapnya ada di bab 3 dan 4). Di sini, ilmu informasi bisa memberi masukkan bagi dirinya sendiri mengenai peristiwa-peristiwa dramatik dalam bidang ilmu pengetahuan yang akan mendorong ilmu informasi untuk mengeksplorasi spirit keilmuan yang baru, indeterminisme, kreativitas dan mengajukan pendekatan baru melalui gaya nomadisme.

Di sini, masuk akal kalau kita menghubungkan respon kita dengan gagasan ‘paradigma’ sebagaimana dikembangkan oleh Morin. Yang dimaksud adalah bahwa kita harus mengambil aktivitas refleksi dari pikiran aktif kita secara sungguh-sungguh, berdasarkan masukan yang lengkap dari kapasitas intelektual kita, tanpa kehilangan pandangan atas fakta bahwa pikiran aktif kita masuk ke dalam suatu jaringan dinamis dengan implikasi yang kuat bagi aktivitasnya. Pada satu sisi, kita perlu melihat aktivitas epistemologis ini sebagai suatu sirkuit, dan pada saat yang sama menyadari bahwa proses itu sendiri dibangun di atas suatu saling-hubung antara berbagai dorongan yang membangun pengetahuan, juga menggarisbawahi pusat di mana kekuatan keilmuan itu bekerja. Singkatnya, paradigma ini menyadarkan kita bahwa ilmu pengetahuan tidak sekedar suatu akumulasi atas pengetahuan faktual, namun distrukturasi melalui teori-teori, yang mana di dalam tatanan struktur pengetahuan, membawa serta strukturasi-strukturasi ideologis yang secara inheren terdapat di dalam proses tersebut. Ada tiga hal: simpul Gordian, dinamika noologis, dan kesadaran bahwa di dalam paradigma itu ada campur baur antara metode-metode pendekatan, arah filosofis serta preferensi pribadi sang ilmuwan.

Langkah kedua, mendorong kontribusi dari ilmuwan informasi sendiri. Pertama, usulan dari Ingwersen tentang pluralisme metodologis. Pendekatan rasional, sosio-behavioral, kognitif, hermeneutis, dan pandangan-pandangan umum, bisa menjadi titik berangkat yang menyediakan keterbukaan yang signifikan. Yang kedua, gagasan dari Bougnoux tentang ‘kelahiran suatu interdisiplin’ yang terkomposisi atas enam bidang keilmuan: pendekatan-pendekatan filosofis, semiotik, teori-teori tindak bicara, the dreams of the masses, mekanisasi pikiran, mediological openings, logika transmisi, dan kerja sama antarkomunitas. Dalam bahasa De Beer, kesalingan ini bisa dilihat sebagai upaya melahirkan antar-ilmu atau suatu ilmu interdisiplin.

Ilmu Informasi: Fungsi dan Tanggung Jawabnya

1. Fungsi

Secara dasariah, setiap ilmu terlibat dengan aktivitas berpikir, termasuk ilmu informasi. Perbedaan dalam pemikiran mesti dilihat dalam konteks ‘konsepsi mengenai pembatasan dan reduksi atas pikiran. Dalam bahasa yang umum, perbedaan pemikiran disebabkan oleh perbedaan objek formal setiap ilmu. Dalam hal ini, ilmu informasi sebagai antar-ilmu berfungsi membantu ilmu-ilmu untuk melintasi batasan-batasan antar-ilmu dan memfasilitasi koneksi dan rantai hubung antar-ilmu, dan berkontribusi dalam pelampauannya itu.

2. Tanggung jawab

Tanggung jawab yang bisa diambil adalah informatisasi: proses yang mencakup tiga istilah penting: aplikasi eksplosi, integrasi, dan distribusi masa. Kalau ini bisa dilakukan, maka apa yang disebut sebagai disposisi reduksionistik akan mampu dilampaui.

Referensi

De Beer, Carol Stephanus. (2015). Information Science as an Interscience: Rethinking Science, Method and Practice. Amsterdam: Chandos Publishing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *