Sekilas Biografi Luciano Floridi

Oleh Taufik Asmiyanto

Luciano Floridi adalah seorang profesor dalam bidang filsafat informasi dan etika informasi di Universitas Oxford, Inggris. Dia sekaligus juga sebagai Direktur Digital Ethics Lab pada Institut Internet Oxford. Floridi yang dilahirkan 53 tahun yang lalu ini, tepatnya tanggal 16 Nopember 1964 di Roma Italia ini, memiliki catatan akademis cemerlang yang ditorehkannya baik di universitas yang membesarkannya maupun di luar perguruan tinggi itu. Tercatat beberapa penghargaan telah diraihnya, Barwize Prize diterimanya dari Asosiasi Filsafat Amerika (American Philosphical Association) tahun 2009 atas karya-karyanya dalam bidang filsafat informasi. Pada tahun 2011, kembali ia menerima penghormatan sebagai laurea honoris causa yang diberikan oleh University of Suceava, Romania, juga atas karya-karyanya dalam subjek filsafat informasi. Tahun berikutnya, 2012, Floridi mendapatkan penghargaan Covey Award dari International Association for Computing and Philosophy. Penghargaan ini diterimanya sebagai bentuk pengakuan atas hasil karya intelektualnya yang luar biasa terutama dalam bidang filsafat dan komputer. Penghargaan dan pengakuan diri dan karya-karyanya terus berlanjut hingga hari ini.

Floridi merupakan seorang filsuf kontemporer yang brilian yang dibuktikannya dengan sejumlah publikasinya yang banyak dikagumi para ilmuwan yang lain. Tercatat kurang lebih 150 artikel yang pernah ditulisnya baik yang diterbitkan sebagai antologi maupun jurnal. Karya-karyanya ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa antara lain: Arab, Belanda, Cina, German, Hungaria, Itali, Jepang, Lithuania, Perancis, Persia, Polandia, Portugis, Rusia, Spanyol dan Yunani

Bidang yang ditekuninya difokuskan pada persoalan-persoalan utama terkait dengan pengaruh teknologi informasi dan komunikasi. Setidaknya, Floridi menekuni topik Etika Digital, Filsafat Informasi dan Filsafat Teknologi. Selain, bidang tersebut, Floridi juga banyak mendalami soal Epistemologi, Filsafat Logika, Sejarah dan Filsafat Skeptisisme.

Proyek Floridi dalam mengurai pemikiran-pemikirannya khususnya bidang filsafat informasi dituangkannya dalam karya tetraloginya yang disebutnya sebagai Principia Philosophiae Informationis. Setidaknya saat ini dua buah mahakarya dari tetraloginya telah hadir di tengah-tengah kita yakni: The Philosophy of Information (2011) dan The Ethics of Information (2013). Sementara, dua karya berikutnya masih berburu dengan waktu, yakni: The Politics of Information dan The Logic of Information. Selain proyek tetraloginya ini, Floridi juga telah membuahkan banyak karyanya yang dipublikasikannya dalam berbagai monograf baik sebagai penulis tunggal maupun dalam kumpulan tulisan (antologi), seperti: L’Estensione dell’Intelligenza-Guida all’informatica per Filosofi (1996), Scepticism and the Foundation of Epistemology-A Study in the Metalogical Fallacies (1996), Internet: un Manuale per Capire (1997), Philosophy and Computing: an Introduction (1999), Sextus Empiricus-The Recovery and Transmission of Pyrrhonism (2002), Information-A Very Short Introduction (2010), The Philosophy of Information (2011), The Ethics of Information (2013), The Fourth Revolution – How the Infosphere is Reshaping Human Reality (2014). Sementara karyanya dalam bentuk antologi antara lain: The Blackwell Guide to the Philosophy of Computing and Information (2004), The Cambridge Handbook of Information and Computer Ethics (2010), Protection of Information and the Right to Privacy (2014), The Ethics of Information Warfare (2014), The Routledge Handbook of Philosophy of Information (2016), The Responsibilities of Online Service Providers (2017) dan Group Privacy-New Challenges of Data Technologies (2017).

Hasil buah karyanya ini jelas memberikan informasi pada kita bahwa Luciano Floridi sebagai seorang ilmuwan dan filsuf telah menunjukkan kematangan dirinya. Elaborasi terhadap karya dan pemikirannya menarik untuk dibedah dan digali lebih dalam. Tentu saja ini bukanlah hal yang  mudah karena pemikirannya khususnya mengenai filsafat informasi layaknya seperti filsuf-filsuf terkenal lainnya memang sulit untuk dibaca dan dipahami. Namun, tentu saja pembacaan atas karya-karyanya dibutuhkan karena memang bidang filsafat informasi telah menemukan momentum temporalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *